Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari berkata:
اجتهادُكَ فيما ضُمِنَ لك، وتَقصيرُكَ فيما طُلِبَ منك، دليلٌ على انطماسِ البصيرةِ منك
“Kesungguhanmu terhadap sesuatu yang telah dijamin bagimu (rezeki dan dunia), dan kelalaianmu terhadap apa yang dituntut darimu (ketaatan kepada Allah), adalah bukti bahwa mata hatimu telah tertutup.”
Pendahuluan Hakikat
Hikmah ini...
Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari berkata dalam al-Hikam:
أَلْأَعْمَالُ صُوَرٌ قَائِمَةٌ وَأَرْوَاحُهَا وُجُودُ سِرِّ الإِخْلَاصِ فِيْهَا
“Amal-amal itu hanyalah bentuk (jasad) yang berdiri; dan ruhnya adalah adanya rahasia keikhlasan di dalamnya.”
Pendahuluan Maknawi
Hikmah ini memasuki dimensi inti perjalanan ruhani seorang hamba: bukan lagi sekadar tentang melakukan amal, menjauhi maksiat,...
Dari al-Ḥikam karya Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari berkata :
الْغِنَى هُوَ غِنَى النَّفْسِ، أَمَّا مَنْ لَا يَسْتَغْنِي عَنِ الْخَلْقِ فَلَا يَجِدُ حَلَاوَةَ الْعِبَادَةِ وَلَا لَذَّةَ الْقُرْبِ
Terjemahan:
Hakikat kaya adalah kayanya jiwa. Adapun siapa yang masih merasa tidak bisa hidup tanpa bergantung kepada makhluk, ia tidak akan pernah...
Dari al-Ḥikam karya Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari berkata :
النَّظَرُ إِلَى الْخَلْقِ لَا يَكُونُ إِلَّا مِنْ عَدَمِ النَّظَرِ إِلَى الْحَقِّ
Terjemahan:
Memandang makhluk (sebagai sumber ketetapan, penentu hasil, dan tempat bergantung utama) hanya terjadi karena kurangnya pandangan hati kepada Allah.
Inti Pesan Utama (Rekap Singkat)
Ketergantungan hati kepada makhluk...
Dari al-Ḥikam karya Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari berkata :
نُقْصَانُ الْعَمَلِ مَعَ وُجُوْدِ الِاسْتِغْفَارِ خَيْرٌ مِنْ كَثْرَةِ الْعَمَلِ مَعَ وُجُوْدِ الْإِعْجَابِ
Terjemahan :Kekurangan amal yang disertai istighfar jauh lebih baik daripada banyak amal yang disertai ujub (kagum dan bangga kepada diri sendiri).
Inti Pesan Utama
1️⃣ Amal tidak dinilai...
Dari al-Ḥikam karya Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari
يُرِيدُ مِنْكَ أَنْ يَقُومَ بِالْحَقِّ لَهُ، وَيُرِيدُ أَنْ لَا تَقُومَ لِنَفْسِكَ
Terjemahan ringkas:“Allah menghendaki agar engkau berdiri (beramal) untuk kebenaran karena-Nya, dan Dia tidak menghendaki engkau berdiri (beramal) untuk kepentingan nafsu dirimu.”
Pendahuluan Kontekstual
Hikmah ini terletak dalam rangkaian pembahasan Ibnu ‘Athaillah...